RADAR KENDARI — Pertumbuhan ekonomi Kota Kendari mencatatkan rekor impresif dengan mencapai 7,78% pada Triwulan I.
Capaian ini menempatkan Ibu Kota Sulawesi Tenggara tersebut berada di posisi ketiga tertinggi se-Indonesia berdasarkan rilis Kementerian Dalam Negeri dalam Rapat Koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, mengungkapkan rasa bangga sekaligus menekankan pentingnya menjaga tren positif ini saat membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Harga Pangan Tahun 2026 di Kendari.
“Capaian 7,78% ini bukan hanya kerja pemerintah, melainkan hasil kerja keras seluruh elemen masyarakat, distributor, dan pelaku usaha yang terus menjaga sinergi. Harapan kita, koordinasi hari ini menghasilkan langkah konkret: stok aman, distribusi lancar, harga terkendali, dan masyarakat terlindungi,” tegas Siska.
Untuk mempertahankan laju ekonomi yang pesat ini, Pemkot Kendari berfokus menjaga daya beli masyarakat melalui pengawasan harga kebutuhan pokok dan penekanan inflasi.
Inflasi Kota Kendari secara year-on-year pada bulan Agustus tercatat stabil di angka 3,66%, dengan inflasi bulanan (month-to-month) berada di angka -0,37%.
Meskipun laju ekonomi tinggi dan inflasi relatif terkendali, Wali Kota Siska mengingatkan seluruh pihak untuk tidak lengah terhadap potensi gangguan pasokan bahan pangan yang dapat memicu kenaikan inflasi.
Guna memastikan pertumbuhan ekonomi dirasakan langsung oleh warga lokal (multiplier effect), Pemkot Kendari mendorong agar lonjakan kebutuhan pangan daerah dipasok dari jaringan UMKM dan distributor lokal.
Siska menyoroti tingginya permintaan komoditas harian seperti telur yang mencapai lebih dari 100.000 butir per hari — termasuk untuk menyuplai 39 Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) / Dapur MBG — serta kebutuhan ayam potong yang mencapai ratusan ekor per hari.
“Semua kegiatan dan kebutuhan pangan di Kota Kendari harus memberikan dampak ekonomi bagi warga Kendari sendiri. Jangan sampai kebutuhan kita tinggi, tetapi justru disuplai dari luar sementara pengusaha dan barang lokal kita tidak laku,” imbau Siska.
Rakor yang dihadiri jajaran Forkopimda, Perum Bulog Sultra, instansi teknis, serta para pelaku usaha pangan ini menjadi wadah menyusun strategi bersama Satgas Pangan.
Selain memastikan kelancaran distribusi dan mengantisipasi penimbunan, Bulog memaparkan bahwa ketersediaan beras di Kendari dalam kondisi sangat aman hingga 1,5 tahun ke depan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Kendari, Abdul Rauf, menambahkan bahwa ketahanan pangan dan kestabilan harga adalah pondasi utama dalam mempertahankan kestabilan sosial dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Melalui sinergi antara pertumbuhan ekonomi yang tinggi, ketersediaan pangan yang aman, dan pelibatan penuh tenaga kerja serta pelaku usaha lokal, Kota Kendari optimistis mampu menjaga kestabilan ekonomi secara berkelanjutan di tahun 2026.
EDITOR : AGUS SETIAWAN
Tidak ada komentar