Inflasi Sultra Februari 2026 Capai 5,41 Persen, Tarif Listrik dan Emas Jadi Pemicu Utama

waktu baca 2 menit
Selasa, 3 Mar 2026 12:45 604 radarkendari.id

RADARKENDARI.ID – Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tenggara mencatat Provinsi Sulawesi Tenggara mengalami inflasi year on year (y-on-y) sebesar 5,41 persen pada Februari 2026.

Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat sebesar 111,09 atau naik dibanding Februari 2025 yang berada di angka 105,39.

Kepala BPS Sultra, Hadi Susanto, mengungkapkan bahwa inflasi tahunan tersebut didorong oleh kenaikan harga di sejumlah kelompok pengeluaran, terutama sektor perumahan dan perawatan pribadi.

“Kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi y-on-y sebesar 21,68 persen dengan andil 2,13 persen. Komoditas yang paling dominan adalah tarif listrik,” jelas Hadi dalam rilis resmi BPS, Senin (2/3/2026).

Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mencatat inflasi tinggi sebesar 13,68 persen dengan andil 1,13 persen, terutama dipicu oleh kenaikan harga emas perhiasan yang menyumbang 1,09 persen terhadap inflasi tahunan.

Dari empat kabupaten/kota cakupan IHK di Sultra, inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Kolaka sebesar 7,77 persen dengan IHK 113,83. Sementara inflasi terendah tercatat di Kabupaten Konawe sebesar 3,57 persen dengan IHK 109,89.

Adapun Kota Baubau mengalami inflasi 6,21 persen dan Kota Kendari sebesar 4,88 persen. “Seluruh wilayah IHK di Sulawesi Tenggara pada Februari 2026 mengalami inflasi tahunan,” tambahnya.

Secara bulanan (month to month/m-to-m), Sultra mengalami inflasi sebesar 0,65 persen. Sementara inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) tercatat sebesar 1,35 persen.

Beberapa komoditas yang dominan menyumbang inflasi bulanan antara lain emas perhiasan, berbagai jenis ikan seperti ikan kembung dan ikan selar, tarif angkutan udara, beras, serta angkutan laut.

Di sisi lain, komoditas seperti bensin, bawang merah, dan uang kuliah akademi/perguruan tinggi tercatat memberikan andil deflasi pada Februari 2026.

Kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi tahunan sebesar 4,99 persen dengan andil 1,66 persen.

Komoditas yang paling berpengaruh antara lain ikan layang, beras, Sigaret Kretek Mesin (SKM), daging ayam ras, serta telur ayam ras.

Sementara itu, lonjakan tarif listrik menjadi faktor dominan dalam kelompok perumahan yang mencatat inflasi tertinggi dibanding kelompok lainnya.

Hadi Susanto menegaskan bahwa perkembangan harga ini menjadi indikator penting dalam memantau stabilitas ekonomi daerah, khususnya menjelang momentum Ramadan dan Idulfitri yang biasanya diikuti peningkatan konsumsi masyarakat.

“BPS terus memantau dinamika harga untuk memberikan data yang akurat dan tepat waktu sebagai dasar pengambilan kebijakan,” pungkasnya.

Editor : Agus Setiawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA