Aksi Damai Berujung Kekerasan, Keamanan Kampus UHO Dikecam Mahasiswa

waktu baca 2 menit
Rabu, 13 Agu 2025 00:34 141 radarkendari.id

RADARKENDARI.ID, Kendari, Sulawesi Tenggara – Universitas Halu Oleo (UHO) kembali menuai sorotan setelah aparat keamanan kampus dituding melakukan tindakan represif terhadap mahasiswa.

Insiden ini terjadi saat mahasiswa menggelar aksi demonstrasi damai di lingkungan kampus pada Senin (11/8/2025), yang berujung pada kekerasan fisik.

Beberapa mahasiswa dilaporkan mengalami luka lebam akibat tendangan dari oknum keamanan kampus.

Aksi yang diprakarsai oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) UHO ini sebenarnya bertujuan menyampaikan sejumlah tuntutan strategis kepada rektor baru.

Namun, respons yang didapat justru kekerasan, yang memicu gelombang kecaman dari berbagai organisasi mahasiswa.

“Tindakan represif ini sangat tidak dapat diterima dan menunjukkan kurangnya kesadaran kampus akan hak-hak mahasiswa,” tegas Abar, perwakilan dari KBM UHO.

Ia menambahkan bahwa kampus seharusnya menjadi tempat yang mendidik mahasiswa untuk berpikir kritis, bukan justru menindas suara-suara kritis.

Tuntutan Mahasiswa: Transparansi dan Reformasi Internal

Dalam aksinya, mahasiswa mengajukan empat tuntutan utama hasil kajian internal KBM UHO yakni, Transparansi Anggaran Kampus. Mahasiswa meminta rincian anggaran yang jelas, termasuk untuk infrastruktur, dana kelembagaan, UKT, uang pangkal, hingga dana KIP Kuliah.

Selanjutnya. Peningkatan Kualitas Pelayanan: Mahasiswa menuntut perbaikan dalam kualitas pelayanan tenaga pendidik.

Kemudian Perbaikan Sistem Keamanan: Mahasiswa mendesak adanya perbaikan sistem keamanan kampus untuk menekan angka kriminalitas. Terakhir, Evaluasi Pemilihan Raya (PEMIRA): Mahasiswa menuntut evaluasi terhadap mekanisme PEMIRA yang dinilai tidak transparan dan sarat intervensi.

Alih-alih membuka ruang dialog, respons pihak kampus dengan kekerasan dinilai mahasiswa sebagai kegagalan manajemen.

Dua mahasiswa, yakni Menteri Pergerakan BEM UHO dan Ketua MPM UHO, menjadi korban dan telah melakukan visum di RS Bhayangkara Kendari serta membuat laporan resmi ke Polresta Kendari.

Desakan Lanjutan dan Ancaman Aksi Lebih Besar

Menanggapi insiden ini, mahasiswa mendesak pihak birokrasi UHO untuk segera Menghentikan segala bentuk tindakan represif terhadap mahasiswa.

Selanjutnya, menuntut pihak kampus agar mengusut tuntas kasus kekerasan yang dilakukan oleh oknum keamanan. Terakhir, Menjamin keamanan dan kebebasan mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi.

Jika tuntutan ini tidak dipenuhi, mahasiswa mengancam akan menggelar aksi lanjutan dengan skala yang lebih besar.

Peristiwa ini dinilai mencerminkan krisis struktural di UHO, di mana transparansi, akuntabilitas, dan komitmen terhadap demokrasi kampus masih menjadi persoalan serius.

Penulis : La Ode Idris Syaputra

Editor : Agus Setiawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA