Ekspor dan Impor Sulawesi Tenggara Kompak Naik Lebih dari 10% di Oktober 2025

waktu baca 2 menit
Jumat, 5 Des 2025 13:01 8 radarkendari.id

RADARKENDARI.ID — Kinerja perdagangan luar negeri Sulawesi Tenggara (Sultra) menunjukkan peningkatan signifikan pada Oktober 2025, baik dari sisi ekspor maupun impor.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tenggara, Andi Kurniawan, menyampaikan bahwa peningkatan ini didorong oleh naiknya komoditas besi dan baja serta tingginya permintaan bahan bakar mineral.

Nilai ekspor Sulawesi Tenggara pada Oktober 2025 mencapai US$340,37 juta, mencatatkan kenaikan sebesar 11,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (Oktober 2024) yang tercatat sebesar US$303,94 juta.

Kenaikan nilai ini juga sejalan dengan peningkatan volume ekspor, yang naik 12,14 persen menjadi 238,45 ribu ton.

“Peningkatan ekspor Sultra pada Oktober 2025 utamanya didorong oleh komoditas besi dan baja yang naik sebesar 10,25 persen, dari US302,55 juta pada Oktober 2024 menjadi US333,57 juta di Oktober 2025, dengan nilai peningkatan mencapai US$31,02 juta,” jelas Andi Kurniawan.

Secara kumulatif, periode Januari–Oktober 2025, ekspor Sultra masih didominasi oleh sektor industri pengolahan sebesar US$3.116,63 juta (99,65 persen), meskipun secara tahunan mengalami sedikit penurunan 1,36 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.

Destinasi ekspor terbesar Sultra tetap ke Tiongkok, yang menyumbang 93,34 persen dari total ekspor.

Sementara itu, dari sisi impor, lonjakan yang lebih tajam terjadi. Nilai impor Sultra pada Oktober 2025 mencapai US$159,05 juta, melesat 37,84 persen dibandingkan Oktober 2024.

Volume impor bahkan mengalami kenaikan lebih tinggi, mencapai 490,20 ribu ton atau naik 63,73 persen.

Peningkatan terbesar pada nilai impor Oktober 2025 disumbang oleh golongan barang bahan bakar mineral, yang naik sebesar US$25,83 juta atau 31,54 persen.

Dalam periode Januari–Oktober 2025, negara pemasok barang impor terbesar untuk Sultra adalah Tiongkok (US451,28 juta), diikuti oleh Singapura (US295,63 juta), dan Malaysia (US$211,12 juta).

Menurut golongan penggunaan barang, impor Januari–Oktober 2025 menunjukkan adanya peningkatan kebutuhan untuk bahan baku/penolong (naik 25,31 persen atau US26,32 juta) dan lonjakan signifikan pada barang modal (naik 162,10 persen atau US17,72 juta). Sebaliknya, impor barang konsumsi mengalami penurunan sebesar 77,65 persen.

Penulis : Agus Setiawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA