Dari kiri ke kanan: Prof. Dr. Betty Tresnawaty, Dr. (Cand.) Donie Kadewandana, Presiden Prabowo Subianto, Dr. Teguh Santosa, dan Prof. Dian Masyita. RADARKENDARI.ID — Panggung World Economic Forum (WEF) 2026 di Swiss mendadak riuh.
Bukan sekadar diplomasi basa-basi, pidato Presiden Prabowo Subianto justru menjadi sorotan tajam para intelektual tanah air.
Para akademisi menilai, Prabowo baru saja melempar “bola panas” yang membedakan dengan tegas antara Prabowonomics yang inklusif dengan Greedynomics (ekonomi keserakahan) yang selama ini merusak tatanan global.
Dr. Teguh Santosa, Direktur Geopolitik Great Institute, menyebut pidato ini bukan sekadar laporan tahunan, melainkan sebuah Proposal Terbuka.
Prabowo dengan berani membedah “warisan” masalah domestik sekaligus menawarkan solusi konkret yang sudah berjalan.
“Presiden mempertegas distingsi antara praktik greedynomics yang destruktif dengan Prabowonomics yang fokus pada perbaikan kerusakan sektor-sektor vital. Ini adalah deklarasi bahwa Indonesia mencari kemitraan yang fair, bukan eksploitatif,” ujar Teguh.
Ia bahkan menyarankan agar pidato ini dijadikan playbook atau buku panduan resmi bagi seluruh instansi pemerintah agar gerak pusat dan daerah selaras.
Dari sisi komunikasi, Prof. Dr. Betty Tresnawaty dari UIN Sunan Gunung Djati menyoroti kepiawaian Prabowo dalam melakukan code-switching—kemampuan beralih gaya bahasa dari diplomatik tinggi ke narasi emosional yang menyentuh rakyat.
Dua Senjata Utama Narasi Prabowo: Data Konkret: Keberhasilan 59,8 juta porsi makanan bergizi dan digitalisasi 288.000 sekolah, dan Narasi Humanis.
“Istilah ‘ekonomi keserakahan’ yang dikemas secara diplomatik menunjukkan nation branding Indonesia yang kuat. Namun, ingat, infrastruktur digital harus dibarengi kapasitas guru agar tidak kontraproduktif,” tegas Prof. Betty.
Dekan FEB UIII, Prof. Dian Masyita, melihat ada pergeseran paradigma ekonomi yang sangat kuat melalui penguatan Danantara (Sovereign Wealth Fund).
Menurutnya, Prabowonomics adalah antitesis dari ekonomi yang rapuh karena bergantung pada modal jangka pendek.
Meski dibanjiri pujian, para akademisi memberikan catatan merah: Konsistensi. Dr. (Cand.) Donie Kadewandana dari Universitas Pancasila mengingatkan bahwa visi besar ini harus dijembatani dengan realitas kebijakan publik yang transparan.
“Tantangannya adalah eksekusi. Pidato ini membawa harapan bahwa pembangunan bukan lagi proyek jangka pendek, melainkan investasi manusia jangka panjang,” pungkas Donie.
Dengan dukungan data dari IMF yang memuji ketangguhan ekonomi RI, pesan dari Davos 2026 ini menjadi sinyal kuat: Indonesia tidak lagi hanya menjadi penonton di panggung global, melainkan pemain yang menentukan arah kompas ekonomi dunia.
Editor : Agus Setiawan
Tidak ada komentar