BI Sultra menekankan pentingnya peran insan pers sebagai pengawas (watcher) sekaligus mitra strategis dalam menjaga kestabilan inflasi dan memajukan perekonomian daerah. RADAR KENDARI — Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Tenggara (Sultra) menekankan pentingnya peran insan pers sebagai pengawas (watcher) sekaligus mitra strategis dalam menjaga kestabilan inflasi dan memajukan perekonomian daerah.
Kepala Perwakilan BI Sultra, Edwin Permadi, menyampaikan bahwa keterbukaan informasi dari media sangat membantu Bank Indonesia dan pemerintah daerah dalam merespons ketidakwajaran harga pangan primer serta komoditas strategis di pasar.
“Jika Bapak dan Ibu menemukan harga yang tidak wajar di lapangan, seperti gas LPG 3 kg yang melambung hingga Rp50.000–Rp60.000 atau lonjakan harga beras dan ikan, silakan informasikan kepada kami. Kami akan segera berkoordinasi dengan dinas terkait untuk menindaklanjutinya agar tidak memicu inflasi,” ujar Edwin dalam keterangannya di hadapan para awak media, Senin (24/08/2026).
Menurut Edwin, kendala utama yang memicu inflasi komoditas pangan primer di Sultra—seperti beras dan minyak goreng—adalah minimnya industri pengolahan lokal.
Sebagian besar hasil pertanian seperti gabah langsung dijual keluar daerah, lalu kembali lagi ke Sultra dalam bentuk olahan dengan harga yang lebih tinggi.
Untuk mengatasi hal tersebut, BI Sultra terus memberikan bantuan sarana dan prasarana bagi UMKM serta kelompok tani, termasuk pengadaan alat penggilingan padi hingga mesin pompa air untuk mengatasi persoalan irigasi.
Selain penanganan inflasi jangka pendek, BI Sultra juga mendorong percepatan transformasi struktur ekonomi daerah.
Saat ini, pertumbuhan ekonomi Sultra masih didominasi oleh sektor basis sumber daya alam yang tidak terbarukan seperti pertambangan, industri pengolahan nikel, serta konstruksi.
Edwin menggarisbawahi pentingnya mengembangkan sektor-sektor berkelanjutan yang menyerap banyak tenaga kerja lokal, khususnya pariwisata, ekonomi kreatif, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Tambang mungkin 10 hingga 15 tahun lagi bisa habis. Namun, jika kita melihat sektor pariwisata, budaya, dan kuliner, sektor-sektor ini akan terus tumbuh dan sustainable seperti yang ada di Bali atau Yogyakarta. Sultra memiliki potensi pariwisata luar biasa seperti Wakatobi hingga Benteng Keraton Buton, serta produk kain tenun lokal bernilai tinggi yang perlu kita dorong bersama aksesibilitas dan pemasarannya,” jelasnya.
Melalui sinergi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan media massa, BI Sultra optimistis potensi ekonomi non-tambang dapat terus terangkat sehingga mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih inklusif dan berkesinambungan.
Editor : Agus Setiawan
Tidak ada komentar