Lawan ‘Silent Killer’, Poltekkes Kemenkes Kendari Gelar Skrining Massal hingga Terapi Bekam di Buton

waktu baca 3 menit
Rabu, 17 Des 2025 17:06 262 radarkendari.id

RADARKENDARI.ID – Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi dan diabetes melitus (DM) kian mengancam masyarakat.

Pemeriksaan glukosa darah, asam urat dan kolesterol di Desa Matanauwe.

Berdasarkan data nasional, PTM kini menyumbang hingga 70% beban penyakit di Indonesia. Merespons kondisi tersebut, Poltekkes Kemenkes Kendari bergerak cepat melakukan aksi nyata di Kabupaten Buton melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM).

Pemeriksaan glukosa darah, asam urat dan kolesterol di Desa Sampuabalo.

Bekerja sama dengan Puskesmas Siontapina, kegiatan ini difokuskan di Desa Matanauwe dan Desa Sampuabalo.

Direktur Poltekkes Kemenkes Kendari, Teguh Fathurrahman, SKM, MPPM, menegaskan bahwa agenda ini merupakan wujud nyata Tridharma Perguruan Tinggi.

Konsultasi kesehatan oleh dokter Puskesmas Siontapina di Desa Manatauwe.

“Ini adalah agenda rutin tahunan di wilayah binaan kami. Tahun ini fokus di Kecamatan Siontapina, melibatkan Prodi D-III Keperawatan Buton. Kami ingin kehadiran kampus memberikan solusi riil bagi masalah kesehatan masyarakat,” ujar Teguh, Sabtu (13/12/2025).

Deteksi Dini di Tengah Lonjakan Kasus

Hipertensi sering dijuluki sebagai “The Silent Killer” karena gejalanya yang sering tak terlihat hingga terjadi komplikasi serius seperti stroke.

Di Kabupaten Buton sendiri, tren penderita DM terus merangkak naik, mencapai 1.379 penderita pada tahun 2024.

Intervensi Bekam di Desa Sampuabalo.

Guna menekan angka tersebut, tim gabungan dosen dan mahasiswa dari lintas jurusan (Keperawatan, Kebidanan, Gizi, dan TLM) memberikan tiga pilar intervensi utama kepada sekitar 170 warga:

* Skrining Kesehatan Terpadu: Meliputi pemeriksaan tekanan darah, gula darah puasa, kolesterol, dan asam urat. Hasilnya, tim berhasil mendeteksi dini 50% kasus hipertensi dan 30% kasus DM yang kemudian langsung dirujuk ke Puskesmas.

Foto Bersama Tim Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Kendari, Kepala Desa Matanauwe, dan Masyarakat Desa Matanauwe.

* Inovasi Terapi Bekam: Menjadi primadona di Desa Sampuabalo. Terapi komplementer ini terbukti efektif memberikan relaksasi. Salah satu warga mengaku tekanan darahnya turun dari 160/100 menjadi 140/90 setelah menjalani bekam. Kemudian pegal di pundak hilang dan perasaan ingin tidur.

* Demo Masak Sehat ‘Isi Piringku’: Masyarakat diajarkan mengolah pangan fungsional lokal, seperti sushi nasi jagung ikan tuna, minuman jahe kelor, hingga sirup jambu mete rendah gula.

Masyarakat Desa Sampuabalo.

Sekedar informasi, hambatan utama di wilayah pesisir adalah akses geografis dan rendahnya kesadaran deteksi dini.

Melalui pendekatan “jemput bola”, Poltekkes Kendari tidak hanya membawa alat medis, tetapi juga membangun kesadaran baru.

Demo Masak Sehat di Desa Matanauwe.

“Kami berharap masyarakat menjadikan pemeriksaan kesehatan sebagai rutinitas bulanan, bukan sekadar menunggu acara tahunan,” tambahnya.

Sinergi antara akademisi dan praktisi Puskesmas Siontapina ini diharapkan menjadi blueprint langkah pencegahan penyakit yang strategis dan berkelanjutan.

Dengan edukasi mandiri mengenai pola makan dan kontrol tekanan darah, kualitas hidup warga pesisir Buton diharapkan meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Penulis : Agus Setiawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA