UHO Dipercaya Susun Kajian Gizi Wilayah Terpencil, Dorong Pemerataan Akses Pangan Nasional

waktu baca 3 menit
Rabu, 8 Apr 2026 17:18 215 radarkendari.id

RADARKENDARI.ID – Universitas Halu Oleo (UHO) kembali menegaskan perannya sebagai institusi akademik unggulan di tingkat nasional.

Kampus yang berbasis di Kendari ini dipercaya oleh Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menyusun kajian strategis terkait tipologi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah terpencil.

Kepercayaan tersebut menjadi bukti kapasitas riset UHO dalam menjawab persoalan krusial bangsa, khususnya di bidang pemenuhan gizi masyarakat yang selama ini masih menghadapi ketimpangan, terutama di daerah-daerah sulit dijangkau.

Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor UHO, Dr. Herman, menyampaikan bahwa penunjukan ini bukan sekadar tugas akademik, melainkan amanah besar yang memiliki dimensi kemanusiaan.

Ia menekankan pentingnya menghadirkan solusi nyata terhadap tantangan distribusi pangan dan layanan gizi di wilayah terpencil.

“Wilayah terpencil memiliki persoalan kompleks, mulai dari akses yang terbatas, distribusi logistik yang sulit, hingga rentang kendali pelayanan yang luas. Kajian ini diharapkan mampu memberikan solusi konkret dan berkelanjutan,” ujarnya dalam rapat di ruang senat UHO, Rabu (8/4/2026).

Menurutnya, pemerataan akses gizi merupakan hak seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

Oleh karena itu, keterlibatan UHO dalam program ini menjadi bagian penting dari upaya pemerintah untuk memastikan setiap warga negara memperoleh akses pangan bergizi secara adil.

Sementara itu, Direktur Tata Kelola Pemenuhan Gizi BGN, Prof. Sitti Aida Adha Taridala, menjelaskan bahwa kajian tersebut ditargetkan menghasilkan rekomendasi kebijakan serta skema pelaksanaan yang akan menjadi landasan program makanan bergizi gratis.

Ia menyebut, UHO dipilih karena memiliki kekuatan riset di bidang wilayah pedesaan, pesisir, dan kelautan, serta didukung oleh sumber daya akademik yang mumpuni.

“Dengan dukungan para ahli dari berbagai disiplin ilmu, kami optimistis hasil kajian ini akan komprehensif dan aplikatif,” jelasnya.

Selain UHO, BGN juga menggandeng sejumlah perguruan tinggi ternama lainnya di Indonesia, seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, dan Institut Pertanian Bogor, yang masing-masing mengerjakan kajian sesuai bidang keahliannya.

Kerja sama ini menggunakan skema swakelola tipe II yang dinilai lebih efektif dalam mempercepat pelaksanaan program. Penandatanganan kontrak kerja sama pun telah dilakukan sebagai langkah awal dimulainya kajian.

Program ini lahir dari keprihatinan terhadap masih tingginya persoalan gizi di Indonesia, termasuk angka stunting serta rendahnya kebiasaan sarapan di kalangan masyarakat.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sekitar 60 persen masyarakat Indonesia tidak sarapan, kondisi yang berpotensi memperburuk status gizi, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Melalui kajian ini, UHO akan mengidentifikasi tipologi wilayah terpencil, merumuskan sistem distribusi logistik yang efisien, mengembangkan model pengelolaan SPPG berbasis potensi lokal, hingga menyusun sistem monitoring dan evaluasi berbasis data lapangan.

Tak hanya berfokus pada aspek kesehatan, kajian ini juga diharapkan mampu mendorong penguatan ekonomi desa melalui optimalisasi sumber daya lokal serta peningkatan koordinasi antar pemangku kepentingan.

Dengan langkah strategis ini, pemerintah menargetkan program pemenuhan gizi dapat berjalan lebih tepat sasaran, inklusif, dan berkelanjutan, sehingga mampu menjangkau masyarakat hingga ke wilayah paling terpencil di Indonesia.

Editor : Agus Setiawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA