Wartawan di Kendari Alami Kekerasan, Didorong dan HP Dipukul Ajudan Gubernur Sulawesi Tenggara ASR Saat Wawancara Mantan Napi Dilantik Jadi Pejabat

waktu baca 2 menit
Selasa, 21 Okt 2025 23:14 186 radarkendari.id

Kendari, Sulawesi Tenggara – Seorang jurnalis di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), bernama Fadli dari matalokal.com, mengalami tindakan kekerasan dan intimidasi oleh dua ajudan Gubernur Sultra, Andi Sumangerukka, usai melakukan wawancara di Kantor Gubernur Sultra, Selasa sore (21/10/2025).

Kekerasan ini terjadi ketika Fadli mengajukan pertanyaan klarifikasi mengenai pelantikan mantan narapidana kasus korupsi, AM, sebagai Kepala Seksi di lingkungan Dinas Cipta Karya Pemprov Sultra.

Kronologi Kejadian

Insiden bermula ketika Fadli bersama sejumlah wartawan lain, termasuk Andi May (SCTV Kendari), Akbar Fua (Liputan6.com), Krismawan (Indosultra.com), dan Ahmad (Nawalamedia), menghadiri penyerahan bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Aula Bahteramas kantor Gubernur Sultra.

Setelah acara selesai, Fadli dan rekan-rekan wartawan bersiap melakukan wawancara doorstop di depan pintu keluar aula.

Gubernur Andi Sumangerukka awalnya melayani pertanyaan terkait penyaluran bantuan KUR dengan lancar.

Namun, suasana berubah tegang saat Fadli mengalihkan pertanyaan ke isu pelantikan pejabat eselon IV berstatus mantan terpidana koruptor yang baru-baru ini dilakukan oleh Gubernur.

Menurut penuturan Fadli, Gubernur Sultra sempat merespons santai dan terlihat ingin menjawab. Namun, secara mendadak, dua ajudan Gubernur datang dan langsung bertindak menghalangi.

“Tiba-tiba ajudan datang, mendorong saya agar menjauh dari gubernur. Sejurus dengan itu, datang lagi satu ajudan lain berambut gondrong dan bermasker hitam juga ikut menghalangi dan melarang kami melanjutkan wawancara,” ujar Fadli.

Ketika Fadli mencoba kembali mendekat untuk melanjutkan upaya klarifikasi, salah satu ajudan terus mendorongnya. Bahkan, ajudan yang diidentifikasi berambut gondrong tersebut memukul ponsel milik Fadli yang digunakan sebagai alat liputan.

“Saya bilang, kenapa halangi saya? Tapi ajudan itu menjawab, ‘sudah cukup’. Gubernur saat itu langsung pergi seolah hanya membiarkan ajudannya menghalang-halangi saya,” tambah Fadli.

Insiden penghentian paksa dan tindakan kekerasan fisik ini terjadi di hadapan sejumlah wartawan lain. Peristiwa ini memicu keprihatinan atas kebebasan pers dan transparansi informasi publik di lingkungan Pemerintah Provinsi Sultra.

Editor : Agus Setiawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA