Tarif Terus Turun, Lukman Pilih Kembali Jadi Drive Taksi Offline di Pelabuhan Kendari

waktu baca 2 menit
Jumat, 10 Apr 2026 22:18 194 radarkendari.id

RADARKENDARI.ID – Lukman, salah seorang pengemudi yang telah menggeluti dunia transportasi daring sejak 2018 di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara mengungkapkan keresahannya terhadap skema tarif yang diterapkan oleh perusahaan aplikasi saat ini.

Ia menilai kondisi kesejahteraan mitra pengemudi semakin memprihatinkan akibat penurunan tarif yang terjadi hampir setiap tahun.

Dalam sebuah wawancara di Pelabuhan Kendari, Kamis (09/04/2026), Lukman menjelaskan alasannya mulai beralih kembali ke sistem offline atau konvensional.

Menurutnya, aturan dan tarif yang ada saat ini dianggap sangat memberatkan, terutama bagi mereka yang menggunakan kendaraan pribadi.

“Seiring berjalannya waktu, ada beberapa hal yang menurut saya sangat merugikan mitra, terutama dari segi tarif dan aturan seperti penggunaan stiker di mobil pribadi,” ujar Lukman.

Persoalan Tarif dan Potongan Aplikasi

Lukman membeberkan hitung-hitungan yang menurutnya jauh dari kata layak. Untuk jarak dekat di kategori kendaraan roda empat, pengemudi terkadang hanya menerima pendapatan bersih sekitar Rp8.000.

“Tarif per kilometernya kalau saya hitung itu sekitar Rp3.700, itu pun belum dipotong lagi oleh aplikasi sebesar 20%. Jadi, pendapatan bersih yang diterima driver sangat jauh dari kata layak,” tambahnya.

Hal ini berbanding terbalik dengan sistem konvensional atau offline. Lukman mengaku lebih memilih sistem lama karena tidak ada potongan dari pihak mana pun. “Berapa pun yang dibayar oleh pengguna jasa, itu utuh menjadi milik driver,” jelasnya.

Minimnya Perlindungan dan Asuransi

Selain masalah pendapatan, Lukman juga menyoroti kurangnya tanggung jawab perusahaan aplikasi dalam hal perlindungan keselamatan mitra.

Ia menyebutkan bahwa sejauh ini, jika terjadi kecelakaan atau kerusakan kendaraan saat proses penjemputan maupun pengantaran, beban biaya sepenuhnya ditanggung oleh pengemudi.

“Sejauh ini kalau ada kecelakaan atau kendaraan rusak, belum ada respon atau tanggung jawab dari pihak aplikasi. Semuanya ditanggung sendiri oleh driver,” ungkap Lukman dengan nada kecewa.

Harapan kepada Pemerintah

Melalui kesempatan ini, Lukman mewakili rekan-rekan pengemudi lainnya berharap agar pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap skema tarif transportasi daring yang belum memiliki aturan baku yang jelas.

Ia mengkritik pihak aplikasi yang dianggap mengatur tarif sepihak sehingga merugikan para mitra pengemudi di lapangan.

Penulis : Agus Setiawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA