PT Vale Perkuat Pencegahan Karhutla di Kolaka, Hampir 30 Kali Penanganan Selama Agustus

waktu baca 4 menit
Senin, 7 Sep 2026 12:38 70 redaksi

RADAR KENDARI – PT Vale Indonesia Tbk melalui Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa memperkuat upaya pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Langkah tersebut dilakukan melalui kegiatan Sosialisasi Penanganan dan Pencegahan Karhutla yang digelar di Desa Totobo, Kecamatan Pomalaa, Selasa (1/9/2026).

Kegiatan ini melibatkan pemerintah kecamatan dan desa dari Kecamatan Pomalaa serta Kecamatan Baula yang wilayahnya berdekatan dengan area operasional perusahaan.

Sosialisasi menghadirkan narasumber dari Kementerian Kehutanan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Kolaka.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen PT Vale, yang merupakan bagian dari Mining Industry Indonesia (MIND ID), dalam memperkuat edukasi, mitigasi, pemantauan, koordinasi, serta kesiapsiagaan menghadapi potensi Karhutla.

Project Director IGP Pomalaa PT Vale Indonesia Tbk, Mohammad Rifai, mengatakan pencegahan Karhutla merupakan bagian dari tanggung jawab perusahaan dalam menjalankan praktik pertambangan berkelanjutan sekaligus menjaga keselamatan masyarakat dan lingkungan di sekitar wilayah operasional.

“PT Vale memiliki kepedulian tinggi terhadap pencegahan dan penanganan Karhutla. Meski merupakan tanggung jawab lintas sektoral, kami mengambil peran aktif melalui mitigasi, penguatan kesiapsiagaan, dan koordinasi yang dijalankan secara paralel di seluruh wilayah konsesi dan PPKH perusahaan,” ujar Rifai, Kamis (3/9/2026).

Menurutnya, kolaborasi lintas sektor penting untuk memastikan setiap potensi kebakaran dapat diantisipasi dan ditangani sedini mungkin.

Upaya memperkuat pencegahan Karhutla menjadi semakin penting menyusul meningkatnya intensitas penanganan kebakaran di wilayah Kolaka.

Berdasarkan catatan tim Emergency Response PT Vale, sepanjang Agustus 2026, tim pemadam kebakaran perusahaan telah melakukan hampir 30 kali penanganan kejadian kebakaran di area hutan, lahan, maupun permukiman warga.

Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar bagi perusahaan untuk meningkatkan kesiapsiagaan, edukasi, pemantauan, serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait.

PT Vale juga menyiagakan personel terlatih dan armada pemadam kebakaran yang dapat dikerahkan sesuai kebutuhan melalui mekanisme koordinasi penanganan keadaan darurat.

Meski demikian, perusahaan menegaskan bahwa kesiapan personel dan peralatan bukan satu-satunya aspek dalam menghadapi ancaman Karhutla. Pencegahan tetap menjadi prioritas.

Upaya tersebut dilakukan melalui pemetaan potensi kerawanan, pemantauan kondisi lapangan, penguatan jalur komunikasi dan pelaporan, peningkatan kapasitas para pihak, serta evaluasi berkala terhadap efektivitas mitigasi.

Dalam sosialisasi tersebut, PT Vale mendorong peningkatan pemahaman pemerintah kecamatan dan desa mengenai mitigasi serta penanganan awal Karhutla.

Aparatur di tingkat lokal dinilai memiliki posisi strategis untuk menyampaikan edukasi kepada masyarakat, mengidentifikasi potensi risiko, sekaligus membangun koordinasi awal apabila ditemukan titik api maupun terjadi kebakaran.

Upaya pencegahan juga perlu dilakukan secara konsisten, termasuk memberikan pemahaman mengenai aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran serta memperkuat mekanisme komunikasi, pelaporan, dan respons darurat.

PT Vale menyatakan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait dalam mendukung penanggulangan Karhutla di Kabupaten Kolaka.

Perusahaan juga siap berpartisipasi dalam langkah penanganan yang dikoordinasikan pemerintah dengan tetap memperhatikan kewenangan dan tanggung jawab masing-masing pihak.

Penguatan pencegahan dan penanganan Karhutla tidak hanya dilakukan di wilayah IGP Pomalaa.

PT Vale menjalankan mitigasi dan kesiapsiagaan secara paralel di seluruh wilayah konsesi dan Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH) perusahaan.

Pelaksanaannya disesuaikan dengan karakteristik wilayah, tingkat kerawanan, kondisi cuaca, tutupan lahan, kedekatan dengan permukiman, serta aktivitas masyarakat di sekitar area operasional.

Pendekatan tersebut mengintegrasikan aspek lingkungan, keselamatan, operasional, dan pelibatan pemangku kepentingan.

Sejumlah langkah yang dilakukan antara lain identifikasi area rawan kebakaran, pemantauan kondisi lapangan, kesiapan personel dan sarana tanggap darurat, penguatan prosedur pelaporan dan respons awal, serta koordinasi dengan pemerintah dan masyarakat.

PT Vale meyakini pengendalian Karhutla membutuhkan sinergi berkelanjutan. Pemerintah berperan dalam kebijakan dan koordinasi, masyarakat menjadi bagian penting dalam pencegahan dan pelaporan awal, sementara perusahaan dapat berkontribusi melalui sumber daya, kompetensi, edukasi, pemantauan, dan kesiapan tanggap darurat.

Melalui berbagai langkah tersebut, PT Vale berharap budaya pencegahan dan kesiapsiagaan terhadap Karhutla semakin kuat, sehingga risiko kebakaran dapat diminimalkan dan keselamatan masyarakat, pekerja, lingkungan, aset, serta keberlanjutan operasional tetap terjaga.

Editor : Agus Setiawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA