Ketua YAPDIK Enam Enam Bumi Kendari, Ichsanuddin Akbar, S.T., M.M. (**Opini: Dr. Astil Harli Roslan) Dua tahun perjalanan kepemimpinan memberi ruang yang cukup untuk membaca arah, pola, dan dinamika perkembangan sebuah institusi.
Dalam rentang waktu tersebut, kepemimpinan tidak lagi hanya dilihat dari gagasan awal, tetapi dari bagaimana berbagai agenda dapat dijalankan, diteruskan, dan dihubungkan dengan kebutuhan organisasi yang terus berkembang.
Di lingkungan YAPDIK Enam Enam Bumi Kendari, kepemimpinan Ichsanuddin Akbar, S.T., M.M. sejak 12 Oktober 2024 berada dalam mata rantai perjalanan institusi yang telah dibangun oleh para pemimpin sebelumnya.
Perkembangan dua tahun terakhir karena itu lebih tepat dibaca sebagai kelanjutan dari fondasi yang sudah ada, sekaligus sebagai fase penguatan terhadap berbagai agenda kelembagaan.
Pada titik ini, konsep Leadership Engine yang dikemukakan Tichy dan Cohen (1997) dapat digunakan sebagai salah satu kacamata analisis.
Keduanya menjelaskan bahwa organisasi yang kuat tidak hanya membutuhkan pemimpin, tetapi juga membutuhkan sistem kepemimpinan yang mampu menggerakkan orang, membangun energi organisasi, menanamkan nilai, serta menerjemahkan gagasan menjadi tindakan.
Dalam kerangka ini, kepemimpinan bekerja melalui ideas, values, emotional energy, dan edge.
Ideas memberi arah terhadap apa yang hendak dicapai organisasi. Values menjadi dasar dalam menjalankan arah tersebut.
Emotional energy menjelaskan kemampuan membangkitkan keterlibatan orang lain agar ikut bergerak, sedangkan edge berkaitan dengan keberanian membaca kenyataan dan mengambil keputusan yang diperlukan.
Dengan demikian, kepemimpinan tidak berhenti pada fungsi administratif, tetapi menjadi daya gerak yang menghubungkan visi dengan kerja kelembagaan.
Bila dibaca dari perjalanan STIE Enam Enam Kendari, daya gerak itu tampak pada sejumlah agenda yang berjalan secara paralel.
Penguatan mutu akademik terus dijaga, ruang jejaring semakin diperluas, kapasitas dosen mulai menunjukkan perkembangan, dan pada saat yang sama institusi juga sedang menyiapkan langkah strategis menuju perubahan bentuk menjadi Universitas Enam Enam.
Agenda ini penting bukan hanya karena menyangkut perubahan status kelembagaan, tetapi karena menandai perluasan horizon institusi menuju organisasi pendidikan tinggi yang lebih besar, lebih kompleks, dan lebih menantang dari sisi tata kelola maupun mutu.
Perubahan bentuk tersebut tentu tidak berdiri sendiri. Menjadi universitas berarti memperluas bidang ilmu, menyiapkan dosen dengan kompetensi yang lebih beragam, memperkuat sarana dan prasarana, memperluas layanan akademik, serta membangun sistem penjaminan mutu yang mampu menjangkau ruang kelembagaan yang lebih luas.
Karena itu, persiapan menuju Universitas Enam Enam dapat dibaca sebagai salah satu indikator bahwa institusi sedang bergerak dari fase penguatan internal menuju fase ekspansi yang lebih strategis.
Daya gerak yang sama juga terlihat pada kualitas akademik yang terus dibangun. Dalam beberapa waktu terakhir, STIE Enam Enam Kendari menunjukkan penguatan melalui capaian akreditasi pada program studi yang ada.
Hal ini penting karena keunggulan institusi tidak hanya bertumpu pada narasi besar, tetapi harus berdiri di atas mutu akademik yang terukur dan diakui.
Selain itu, perkembangan kapasitas dosen juga layak mendapat perhatian. Tiga dosen STIE Enam Enam Kendari tercatat meraih pendanaan dari Kemdiktisaintek dan Kementerian Kebudayaan.
Capaian ini tidak sekadar menunjukkan keberhasilan individu, tetapi juga memperlihatkan bahwa atmosfer akademik mulai bergerak ke arah yang lebih produktif.
Pada saat yang sama, terdapat pula dua dosen penerima Beasiswa Program Doktor untuk Dosen Indonesia 2026 serta lima dosen penerima manfaat program Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan 2026.
Kombinasi capaian ini memberi sinyal bahwa penguatan institusi tidak hanya terjadi di tingkat organisasi, tetapi juga menyentuh pengembangan sumber daya manusia.
Lebih jauh, capaian riset dan pengabdian juga menunjukkan penguatan yang menarik. Di ruang lingkup STIE Enam Enam Kendari, tercatat 14 program Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat tahun 2026 berhasil lolos.
Angka ini penting karena memberi gambaran bahwa kapasitas akademik kampus tidak hanya tumbuh pada tataran wacana, tetapi sudah bergerak dalam bentuk proposal, riset, dan kegiatan pengabdian yang memperoleh pengakuan secara kompetitif.
Dalam jangka panjang, capaian seperti ini menjadi modal penting untuk membangun budaya akademik yang lebih kokoh.
Dari sudut pandang teori, perkembangan tersebut dapat diperkuat dengan perspektif resource orchestration sebagaimana dijelaskan Sirmon, Hitt, Ireland, dan Gilbert (2011).
Gagasan ini menekankan bahwa organisasi tidak otomatis unggul hanya karena memiliki sumber daya. Keunggulan muncul ketika sumber daya tersebut mampu disusun, dipadukan, dan diarahkan untuk menghasilkan nilai.
Sumber daya itu bisa berupa dosen, mahasiswa, jejaring, reputasi, peluang riset, budaya kerja, hingga energi organisasi. Semua itu baru menjadi kekuatan ketika mampu dirangkai ke dalam agenda institusi yang jelas.
Dari sini, hubungan antara Leadership Engine dan resource orchestration menjadi cukup terang. Kepemimpinan menyediakan arah dan energi, sedangkan pengelolaan sumber daya memastikan bahwa arah tersebut dapat dijalankan secara nyata.
Gagasan melahirkan agenda, agenda membutuhkan sumber daya, sumber daya memerlukan koordinasi, koordinasi menghasilkan aktivitas, aktivitas melahirkan prestasi, dan prestasi memperkuat reputasi.
Reputasi yang menguat kemudian membuka peluang baru bagi institusi. Pola seperti inilah yang membuat kepemimpinan layak disebut sebagai mesin penggerak.
Jejaring internasional juga merupakan bagian dari pola itu. Benchmarking, kolaborasi, dan pembukaan ruang kemitraan dengan institusi luar negeri menjadi penting bukan semata sebagai simbol internasionalisasi, tetapi sebagai sarana memperluas pengalaman akademik, memperkuat mutu, dan membuka peluang pengembangan yang lebih besar.
Jejaring yang dikelola dengan baik dapat menjadi jembatan bagi penguatan kurikulum, riset bersama, pertukaran pengalaman, dan pembelajaran kelembagaan.
Keunggulan sebuah perguruan tinggi memang tidak pernah dibangun hanya dari satu indikator. Akreditasi penting, tetapi ia harus berjalan bersama produktivitas dosen.
Prestasi mahasiswa penting, tetapi memerlukan ekosistem yang mendukung. Riset dan pengabdian penting, tetapi harus bertumpu pada budaya akademik yang sehat.
Jejaring penting, tetapi harus menghasilkan manfaat nyata. Karena itu, keunggulan STIE Enam Enam Kendari lebih tepat dibaca sebagai hasil dari berbagai unsur yang mulai bergerak saling menguatkan.
Dalam hal ini, kepemimpinan Ichsanuddin Akbar tidak perlu dibaca sebagai permulaan dari seluruh perkembangan institusi.
Yang lebih proporsional adalah melihatnya sebagai bagian dari estafet kepemimpinan yang melanjutkan fondasi sebelumnya, sambil memberi akselerasi baru terhadap agenda agenda yang sedang dihadapi institusi.
Pembacaan seperti ini penting agar penghormatan terhadap para pemimpin terdahulu tetap terjaga, sekaligus memberi ruang untuk melihat kekhasan fase kepemimpinan saat ini.
Tichy dan Cohen (1997) juga menekankan bahwa ukuran kepemimpinan yang kuat bukanlah sejauh mana organisasi bergantung pada satu figur, melainkan sejauh mana organisasi mampu melahirkan kepemimpinan baru di berbagai tingkatan.
Dari sini, kekuatan Leadership Engine sebenarnya tidak hanya terlihat pada capaian yang sudah ada, tetapi juga pada kemampuan organisasi memperbesar kapasitas internalnya.
Perguruan tinggi yang sehat adalah perguruan tinggi yang mampu membuat dosen berkembang, mahasiswa berprestasi, unit unit kerja berinisiatif, dan jejaring kelembagaan bekerja secara produktif.
Karena itu, tantangan STIE Enam Enam Kendari ke depan tidak kecil. Persiapan menuju universitas, perluasan program studi, penguatan mutu, pengelolaan prestasi dosen, peningkatan daya saing mahasiswa, dan perluasan jejaring harus dijaga agar tumbuh secara seimbang.
Pertumbuhan kelembagaan perlu disertai pertumbuhan kualitas. Semakin besar organisasi, semakin besar pula kebutuhan akan sistem yang solid.
Pada akhirnya, Leadership Engine 2026 bukan sekadar istilah, melainkan cara membaca bagaimana kepemimpinan bekerja sebagai daya gerak di balik keunggulan institusi.
Ia tidak hanya berbicara tentang siapa yang memimpin, tetapi tentang bagaimana visi diterjemahkan menjadi agenda, bagaimana sumber daya diorkestrasi menjadi capaian, dan bagaimana capaian itu diubah menjadi kapasitas baru bagi organisasi.
Jika daya gerak ini terus dijaga, maka STIE Enam Enam Kendari tidak hanya bergerak menuju perubahan bentuk kelembagaan, tetapi juga menuju penguatan kualitas yang lebih matang.
Di situlah arti penting kepemimpinan: bukan sekadar menghasilkan program, melainkan menyalakan mesin institusi agar terus bergerak, tumbuh, dan siap memasuki fase perkembangan berikutnya.**
Tidak ada komentar