Peserta sosialisasi sertifikasi halal sempatkan foto bersama di Balai Kota Kendari, Jumat (17/11/2023). RADARKENDARI.ID ; Kendari – Produk halal menjadi salah satu daya tarik bagi konsumen dalam memilih produk kebutuhannya. Kendari demikian, saat ini masih ada beberapa pelaku usaha yang belum melegalkan produknya dengan sertipikat halal.

Suasana sosialisasi sertifikasi halal yang digelar Pemkot Kendari bekerjasama dengan LPPOM MUI Sultra di Balai Kota Kendari, Jumat (17/11/2023).
Merespon hal tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari menggandeng Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetik Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Sulawesi Tenggara (Sultra) mensosialisasikan pentingnya sertifikasi halal.
Ketua Panitia, Sahuriyanto mengatakan sosialisasi sertifikasi penting dilakukan agar masyarakat sadar akan pentingnya legalitas halal produk dan usahanya.
Lanjut Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kota Kendari ini, kegiatan sertifikasi halal mendapatkan dukungan langsung dari Penjabat (Pj) Wali Kota Kendari termasuk instansi terkait dalam hal ini Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang), Distan, Bagian Kesejahteraan Masyarakat (Kesra), dan Bagian Umum Sekretariat Daerah (Setda) Kota Kendari termasuk didukung oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Kendari.
“Kami harap setelah kegiatan ini banyak pelaku usaha yang mensertifikasi produknya. Jadi bukan hanya RPH (Rumah Potong Hewan) yang tersertifikasi halal, tapi juga termasuk rumah potong unggas di pasar tradisional dan modern dan pelaku usaha,” kata Sahuriyanto.
Pada kesempatan yang sama, Direktur LPPOM MUI Sultra, Prof Sahidin mengapresiasi sosialisasi sertifikasi halal di Kota Kendari. Menurutnya, sosialisasi penting dilakukan agar masyarakat mengetahui berbagai tahapan dalam proses pengurusan sertifikasi halal.
Prof Sahidin tak menampik jika di Sultra masih terdapat beberapa pelaku usaha belum tersertifikasi halal termasuk RPH di Sultra.
“Masalahnya saat uni tidak ada rumah potong hewan yang tersertifikasi. Jadi semua produk yang sudah berbahan baku daging apakah sosis, bakso dan lainnya (bahan bakunya) harus dibeli di Makassar atau Surabaya. Hal ini tentunya sangat membebani pelaku usaha,” ungkap Prof Sahidin.
Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Halu Oleo (UHO) ini berharap masyarakat dan pelaku usaha peduli terhadap sertifikasi halal dengan cara mengikuti seluruh rangkaian sosialisasi termasuk melaksanakan pendaftara di LPPOM MUI agar mendapatkan legalitas halal.
Warga Diusul Dapat Bantuan Modal Usaha
Penjabat (Pj) Wali Kota Kendari, Asmawa Tosepu mendorong masyarakat menjadi mandiri dan sejahtera. Itu diwujudkan lewat kemudahan mengakses bantuan modal usaha.

Pj Wali Kota Kendari, Asmawa Tosepu menyalurkan bantuan modal usaha kepada salah satu pelaku UMKM di Kota Kendari.
Asmawa Tosepu mengungkapkan, saat ini pemerintah telah menyiapkan berbagai bantuan modal usaha untuk masyarakat. Misalnya bantuan modal usaha dari Kementerian Sosial (Kemensos) dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).
“Pemerintah Kota Kendari senantiasa membantu masyarakat untuk mendapatkan bantuan modal usaha. Kami harap bantuan yang disiapkan bisa membuat masyarakat mandiri dan kelak tidak menjadi penerima bantuan sosial (bansos) melainkan sudah menjadi pemberi,” ungkap Asmawa Tosepu, kemarin.
Oleh Karena itu, ia telah menginstruksikan Dinas Sosial (Dinsos) untuk membantu masyarakat mendapatkan akses layanan bantuan. Asmawa yakin, masyarakat yang mandiri dan memiliki modal usaha kuat bisa menjauhkan masyarakat dari kemiskinan dan mewujudkan kesejahteraan.
Terpisah, Kepala Dinsos Kendari, Susanti mengatakan, pihaknya terus mendorong masyarakat agar terbebas dari kemiskinan. Salah satu upaya yang dilakukan yakni mengajak masyarakat untuk mendapatkan bantuan Program Pahlawan Ekonomi Nusantara (PENA).
Ia menjelaskan, Program PENA merupakan program unggulan Kemensos dalam rangka membantu masyarakat mendapatkan modal berusaha.
“Tahun 2024 kita mendapatkan kuota 70 penerima manfaat. Sasarannya adalah mereka yang menerima bantuan sosial PKH (Program Keluarga Harapan). Mereka diajak untuk keluar sebagai penerima bansos dan diberikan modal untuk berusaha. Saat ini kami masih sosialisasikan kepada masyarakat,” kata Susanti.
Lanjut dia, bantuan yang diberikan kepada masyarakat berbentuk tunai dan kemudian akan dibelanjakan untuk keperluan usaha seperti penyiapan bahan usaha, wadah, tempat dan fasilitas lainnya.
“Misalnya masyarakat ingin berjualan gorengan, kami bantu dampingi untuk membeli bahan gorengannya, wajannya, belanganya hingga gerobaknya. Jadi semua pemerintah yang siapkan masyarakat tinggal berdagang,” kata Susanti.
Selain bantuan Kemensos, pihaknya juga membantu masyarakat mendapatkan bantuan modal usaha dari Baznas. Sebagai bentuk dukungan Dinsos selalu mengupdate data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS) yang digunakan untuk menjaring calon penerima bantuan termasuk bantuan modal usaha dari Baznas.
“Data dari DTKS ini yang dijadikan dasar oleh pemerintah maupun lembaga lainnya yang ingin menyalurkan bantuan. Jadi yang menerima bantuan benar-benar masyarakat yang membutuhkan. Penyaluran bantuan harus tepat sasaran sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat,” pungkasnya.
Genjot Pengembangan Industri Kreatif
Penjabat (Pj) Wali Kota Kendari, Asmawa Tosepu mendukung penuh pengembangan industri kreatif di Kota Lulo. Ia yakin, industri kreatif menjadi salah satu sektor yang mendukung perekonomian daerah termasuk menjadi daya tarik pariwisata.

Pj Wali Kota Kendari, Asmawa Tosepu bersama jajaran sempatkan foto bersama pelaku usaha di Kota Kendari.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan industri kreatif, pihaknya menggelar pelatih yang diikuti beberapa pelaku ekraf di Kota Kendari. Mereka dilatih untuk memanfaatkan bahan baku kerajinan menjadi sebuah produk ekonomi kreatif.
Asmawa menuturkan, di era kecanggihan teknologi saat ini, ekonomi kreatif menjadi salah satu bentuk aktivitas ekonomi yang mendapat ruang yang cukup besar untuk berkembang selain di bidang seni, sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang produknya dihasilkan melalui proses kreatif, dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga dan bersaing secara berkelanjutan.
“Saya melihat bahwa pelatihan ini prospektif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, peningkatan daya saing dan pertumbuhan ekonomi di Kota Kendari,” ungkap Asmawa Tosepu usai membuka kegiatan pelatihan Ekraf di Zahra Syariah Hotel Kendari.
Asmawa berharap, melalui pelatihan ini para peserta diharapkan dapat mengambil peran untuk terus berkontribusi terhadap keberlangsungan kepariwisataan di Kota Kendari, khususnya pengembangan ekonomi kreatif melalui pelatihan agar nantinya dapat menghasilkan karya seni berciri khas kota Kendari.
Ia mencontohkan beberapa kerajinan tangan yang berciri khas Kendari yakni Kerajinan Perak Kendari. Kerajinan ini sudah mendunia terbukti Ratu Inggris dan Ratu Belanda pernah memesan kerajinan perak Kota Lulo. Atas dasar itulah, dirinya tertarik untuk mengembangkan kerajinan tersebut.
Asmawa mengungkapkan, kerajinan perak Kota Kendari unik dan berkualitas tinggi. Hal itulah yang membuat kerajinan perak Kendari sangat diminati pasar lokal maupun internasional. “Kerajinan perak Kota Kendari sangat menjanjikan sehingga perlu kita dorong dan bisa menjadi sebuah industri kerajinan” ungkapnya.
Ia tak menampik jika perajin perak menghadapi dua tantangan besar yaitu masalah produksi dan pemasaran. Pada sisi produksi, perajin perak belum memiliki wadah atau workshop dan peralatan lengkap untuk membuat kerajinan perak. Demikian halnya dengan pemasaran, perajin perak kesulitan dalam memperkenalkan (menjual) hasil kerajinannya.
“Pemerintah Kota Kendari berkewajiban untuk menyiapkan sarana dan prasarana kepada semua stakeholder dalam hal ini kepada lembaga-lembaga yang membutuhkan seperti dekranas. Nanti kita siapkan pojok dekranasda yang berisi hasil kerajinan warga masyarakat Kota Kendari di Balai Kota Kendari,” ungkap Asmawa.
Sekedar informasi, hasil kerajinan perak terbaik yang pernah dikerjakan oleh pelaku ekraf Kota Kendari adalah miniatur kereta kencana pesanan Ratu Inggris dan sebuah talam kue pesanan Ratu Belanda atau yang lebih dikenal dengan Kendari Werk.
Kerajinan ini mampu mencatatkan Kota Kendari di tingkat nasional bahkan internasional. Terbukti, desain kalung perak khas Kendari diakui United Nations Educational, Scientific dan Cultural Organizations (UNESCO).
Kendari Werk sudah berkembang semenjak zaman penjajahan Belanda. Penggagas kerajinan ini adalah Jie A Woi yang terinspirasi oleh seekor laba-laba yang sedang membuat sarang. Kendari perak terus dilestarikan oleh masyarakat Kendari, dan menjadi ciri khas perhiasan yang ada di Kendari.
Namun sayang, makin sedikitnya pengrajin perak di Kendari membuat kerajinan asli nusantara ini terancam kepunahan. Tinggal sedikit orang saja yang masih bertahan bermain dengan benang halus perak Kendari ini.
(wan)
Tidak ada komentar