Ilustrasi Google Gemini AI. RADAR KENDARI — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara menuai sorotan tajam.
Kali ini, sorotan publik tertuju pada salah satu Satuan Pelayanan Penyediaan Gizi (SPPG) di Kabupaten Muna yang diduga kuat mempraktikkan nepotisme dalam perekrutan tenaga kerjanya.
Terkuak dari temuan di lapangan menunjukkan adanya dugaan monopoli pekerjaan dimana hubungan kekerabatan mulai dari kakak-adik hingga pasangan suami istri (pasutri), dipekerjakan dalam satu dapur produksi yang sama.
Praktik ini memicu kritik keras dari berbagai elemen masyarakat dan pegiat antikorupsi di Bumi Sowite salah satunya dari Konsorsium Pemuda dan Mahasiswa (KPM) Sulawesi Tenggara (Sultra).
Kordinator KPM Sultra, Ais Tenggara menilai praktek ini mencederai asas keadilan dan pemerataan ekonomi yang seharusnya menjadi dampak positif dari program strategis nasional tersebut.
Alih-alih menyerap tenaga kerja secara luas dari lingkungan sekitar, SPPG ini justru terkesan menjadikan dapur penyedia gizi sebagai “lahan basah” bagi kelompok atau keluarga tertentu saja.
“Segala bentuk tindakan yang menguntungkan sanak saudara atau kelompok tertentu dengan merugikan hak orang lain atau negara adalah bentuk kejahatan,” ungkap pria yang kerap disapa Ais itu, Sabtu (18/7/2026)
Ia pun berpendapat kondisi ini menimbulkan tanda tanya besar terkait integritas dan standar operasional prosedur (SOP) dalam manajemen SPPG di Kabupaten Muna.
Pihaknya mendesak agar pihak berwenang segera melakukan audit dan investigasi mendalam terkait dugaan nepotisme ini.
“Transparansi dalam proses rekrutmen pekerja di setiap dapur MBG mutlak diperlukan untuk mencegah potensi penyalahgunaan wewenang dan memastikan bahwa anggaran negara benar-benar memberikan multiplier effect bagi kesejahteraan masyarakat luas,” tegasnya.
Salah satu karyawan SPPG dimaksud berinisial A ditemui di dapur MBG saat ditanya terkait hal itu tak menampik jika dirinya bersama istrinya bekerja di dapur MBG itu karena punya keakraban dengan mitra.
“Istriku awalnya kerja di SPPG W tapi dipecat tanpa alasan makanya saya ajak disini dengan rekomendasiku,” ungkapnya.
Informasi yang diterima media ini, karyawan yang berasal dari kecamatan L itu bakal kembali memasukan anaknya untuk menggantikan salah satu karyawan yang di keluarkan dengan bekal kekerabatan pihak mitra.
Pewarta media ini terus menghubungi SPPG dimaksud untuk mendapatkan keterangan resmi terkait polemik ini.
Laporan : Abdul Rasyid
Editor : Agus Setiawan
Tidak ada komentar