Duh Inflasi Sulawesi Tenggara Tembus 4,68 Persen!

waktu baca 3 menit
Sabtu, 4 Jul 2026 09:04 47 redaksi

RADAR KENDARI – Bagi Anda warga Sulawesi Tenggara (Sultra) yang hobi mengoleksi emas perhiasan atau punya agenda terbang dalam waktu dekat, siap-siap menghela napas panjang.

Pasalnya, “glowing” di penampilan ternyata berbanding lurus dengan menyusutnya isi dompet.

Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra baru saja merilis data mengejutkan: Bumi Anoa resmi dihantam inflasi Year-on-Year (y-on-y) sebesar 4,68 persen pada Juni 2026.

Kepala BPS Sultra, Hadi Susanto, MA, mengungkapkan bahwa kenaikan harga terjadi di seluruh lini pengeluaran masyarakat.

Namun, dari sekian banyak barang, emas perhiasan dan tiket pesawat menempati kasta tertinggi sebagai biang kerok utama lonjakan harga ini.

“Berdasarkan pemantauan kami di empat kabupaten/kota, inflasi tahunan kita menyentuh angka 4,68 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 114,60. Kalau dicari siapa pelakunya, kelompok perawatan pribadi seperti emas perhiasan, serta kelompok transportasi seperti tarif angkutan udara memiliki andil yang sangat dominan,” ujar Hadi Susanto dalam rilis resminya, Rabu (1/7/2026).

Menariknya, peta ‘kepanasan’ harga di Sultra tidak merata. Kota Baubau sukses menyabet gelar juara umum wilayah dengan inflasi tertinggi, yakni melesat hingga 5,60 persen (IHK 116,58).

Di posisi kedua, ada Kabupaten Kolaka yang mengintip tipis dengan inflasi 5,33 persen.

Sementara itu, Kota Kendari berada di angka 5,14 persen.

Bagi Anda yang ingin hidup dengan beban finansial lebih ringan, Kabupaten Konawe tampaknya bisa jadi pilihan tempat tinggal ideal saat ini. Konawe berhasil menjadi wilayah paling ‘adem’ dengan tingkat inflasi terendah, hanya sebesar 2,12 persen.

Jangan pikir hanya kaum sosialita pecinta emas yang menjerit. Kelompok pencinta kuliner dan para perokok pun ikut menyumbang angka inflasi. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat mengalami inflasi tahunan sebesar 5,88 persen.

“Komoditas seperti ikan layang, ikan cakalang, minyak goreng, hingga Sigaret Kretek Mesin (SKM) alias rokok, ikut memberikan andil besar dalam menguras isi kantong warga. Ditambah lagi, komoditas bensin dan uang kuliah di perguruan tinggi juga ikutan naik kelas alias mengalami kenaikan harga,” tambah Hadi.

Secara rinci, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya meroket paling tinggi sebesar 8,55 persen (dipicu kilau emas), disusul kelompok transportasi sebesar 6,59 persen, serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau di angka 5,88 persen.

Meski banyak harga barang yang bikin geleng-geleng kepala, untungnya alam masih menyisakan sedikit kelonggaran bagi dapur warga.

BPS mencatat ada beberapa komoditas yang justru harganya sedang ‘tiarap’ alias mengalami deflasi dan menyelamatkan warga dari inflasi yang lebih parah.

Bagi pencinta sambal dan makanan protein murah, Anda bisa sedikit bernapas lega. Komoditas seperti telur ayam ras, cabai rawit, ikan mujair, ikan gabus, daun singkong, tempe, hingga kelapa tercatat mengalami penurunan harga secara tahunan.

Secara bulanan (month-to-month), Sultra juga mengalami inflasi sebesar 1,29 persen jika dibanding Mei 2026.

Dengan tren harga yang terus merangkak naik ini, tampaknya warga Sultra harus makin bijak membedakan mana yang menjadi ‘kebutuhan utama’ dan mana yang sekadar ‘keinginan gaya hidup’ agar tidak terjebak dalam pusaran inflasi pribadi.

Editor : Agus Setiawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA