FKUB Sulawesi Tenggara : Perbedaan Harus Jadi Jembatan Persaudaraan

waktu baca 2 menit
Sabtu, 4 Jul 2026 21:46 41 redaksi

RADAR KENDARI – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sulawesi Tenggara menggelar kegiatan Moderasi Beragama bagi Pemuda Lintas Agama dengan mengusung tema “Membangun Pemuda Toleran, Kreatif, dan Berdaya untuk Sulawesi Tenggara Rukun”.

Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Sulawesi Tenggara, Sabtu (4/7/2026).

Ketua FKUB Provinsi Sulawesi Tenggara, Drs. KH. Muslim, M.Si., mengatakan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang kaya akan keberagaman suku, bahasa, budaya, dan agama.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi kekuatan yang harus terus dijaga melalui sikap saling menghormati, bergotong royong, dan memperkuat persatuan di tengah perbedaan.

“Kita sudah lama hidup dalam keberagaman. Oleh karena itu, kita semua wajib menjunjung tinggi nilai-nilai Persatuan Indonesia serta menjaga semangat Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu,” ujarnya.

Sementara itu, Dr. H. Muh. Ikhsan, M.Ag., menyampaikan bahwa bangsa Indonesia tidak kekurangan orang pintar, tetapi membutuhkan lebih banyak orang yang bijaksana.

“Bangsa ini tidak membutuhkan generasi yang mudah membenci, tetapi generasi yang mampu berdialog. Kita tidak membutuhkan generasi yang mudah menghakimi, tetapi generasi yang mampu memahami. Kita juga tidak membutuhkan generasi yang gemar menyebarkan kebencian, melainkan generasi yang menebarkan kasih sayang. Mari jadikan keberagaman sebagai kekuatan, bukan ancaman, dan jadikan perbedaan sebagai jembatan persaudaraan, bukan tembok permusuhan,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sulawesi Tenggara, Adrian, S.E., M.M., menegaskan pentingnya moderasi beragama dalam menjaga kerukunan masyarakat yang multikultural di Sulawesi Tenggara.

Ia menjelaskan bahwa Sulawesi Tenggara dihuni oleh berbagai suku asli, seperti Tolaki, Muna, Buton, dan Moronene, serta masyarakat dari berbagai daerah lainnya. Karena itu, moderasi beragama menjadi kunci dalam menjaga integrasi sosial agar tetap harmonis.

Selain itu, Adrian juga menekankan pentingnya mengadaptasi nilai-nilai budaya dan kearifan lokal, seperti budaya Kalosara pada masyarakat Tolaki, ke dalam praktik kehidupan beragama sebagai upaya mempererat persaudaraan.

Menurutnya, pemuda bukan hanya menjadi objek pembangunan, tetapi merupakan subjek strategis yang mampu menghubungkan nilai-nilai tradisi lokal dengan semangat moderasi beragama di era global, sehingga tercipta kehidupan masyarakat Sulawesi Tenggara yang damai, rukun, dan harmonis.

Laporan : La Ode Idris Syaputra
Editor : Agus Setiawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA