Penjualan Perdana IGP Pomalaa, PT Vale Indonesia Tbk Perkuat Rantai Pasok Global Nikel

waktu baca 3 menit
Senin, 2 Mar 2026 13:57 291 radarkendari.id

RADARKENDARI.ID — Langkah besar kembali dicatat industri pertambangan nasional. PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale), bagian dari Mining Industry Indonesia (MIND ID), resmi membukukan penjualan perdana bijih nikel dari proyek Indonesia Growth Project Pomalaa (IGP Pomalaa), 1 Maret 2026.

Capaian ini menjadi penanda penting transisi proyek dari fase konstruksi menuju fase operasional yang mulai menghasilkan pendapatan (revenue-generating phase).

Lebih dari sekadar milestone, langkah ini mempertegas posisi Indonesia dalam rantai pasok global mineral kritis, khususnya nikel sebagai bahan baku utama baterai kendaraan listrik.

Penjualan perdana tersebut juga menjadi bagian dari strategi project de-risking, validasi kesiapan sistem produksi, serta penguatan fundamental pertumbuhan jangka panjang perusahaan.

Nikel sendiri merupakan komponen kunci dalam baterai lithium-ion, terutama untuk katoda berkadar nikel tinggi yang digunakan pada kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan sistem penyimpanan energi.

Di tengah percepatan elektrifikasi global dan transisi energi bersih, permintaan nikel diproyeksikan terus meningkat dalam satu dekade ke depan.

Sebagai salah satu negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia memegang peran strategis dalam ekosistem tersebut.

IGP Pomalaa menjadi bagian dari agenda hilirisasi nasional untuk meningkatkan nilai tambah melalui integrasi pertambangan dan pengolahan di dalam negeri.

Dengan nilai investasi terintegrasi sekitar Rp74,44 triliun atau setara ±US$4,43 miliar, proyek ini menjadi salah satu fondasi penting penguatan daya saing industri nikel nasional di pasar global.

Director and Chief Project Officer PT Vale, Muhammad Asril, menjelaskan bahwa penjualan perdana dimungkinkan melalui aktivasi area oresell di Pit PB5 dan Pit PB1.

“Peresmian area oresell di Pit PB5 dan PB1 merupakan langkah strategis untuk menjaga ritme produksi dan memastikan distribusi material berjalan optimal. Dengan dukungan infrastruktur yang terus kami percepat, kami memastikan pencapaian target IGP Pomalaa tetap sejalan dengan prinsip operational excellence dan praktik pertambangan berkelanjutan,” ujarnya.

Kedua pit tersebut memiliki kapasitas penampungan hingga 4 juta wet metric ton (Mwmt) bijih limonit. Kapasitas ini memberikan fleksibilitas inventori yang signifikan sekaligus menjamin keberlanjutan suplai menuju fasilitas pengolahan di Pomalaa.

Memasuki Maret 2026, IGP Pomalaa menargetkan produksi sebesar 300.000 ton limonit per bulan atau sekitar 9.677 ton per hari. Strategi ramp-up dilakukan secara disiplin guna memastikan stabilitas operasional dan optimalisasi kapasitas produksi.

Dengan buffer inventori mencapai 4 Mwmt, proyek ini dinilai memiliki ketahanan pasokan yang memadai di tengah volatilitas pasar komoditas.

Dari sisi pembangunan, progres konstruksi hingga Januari 2026 telah mencapai 65,76 persen, menandakan eksekusi proyek berjalan on track. Sementara pembangunan Main Haul Road (MHR) menuju stockpile telah mencapai 40 persen.

Jalur ini menjadi tulang punggung distribusi material dari area tambang ke fasilitas pengolahan dan pelabuhan, sehingga berperan penting dalam meningkatkan produktivitas dan menekan potensi hambatan logistik.

Perkembangan ini memperkuat profil efisiensi modal (capital efficiency) proyek sekaligus meningkatkan visibilitas arus kas jangka menengah dan panjang.

Sebagai bagian dari MIND ID, PT Vale menegaskan komitmennya menghadirkan pertumbuhan industri nikel yang kompetitif, terintegrasi, dan berkelanjutan.

Penjualan perdana IGP Pomalaa bukan hanya tonggak operasional, tetapi juga simbol penguatan posisi Indonesia dalam peta industri mineral kritis dunia.

Editor : Agus Setiawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA