Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Kendari, Abdul Rauf, menegaskan bahwa peternakan mandiri—seperti budidaya ayam skala kecil—merupakan bagian tak terpisahkan dari konsep Rumah Pangan B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman) untuk memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi keluarga. RADAR KENDARI — Kenaikan harga cabai yang melonjak tajam dari Rp 40 ribu menjadi Rp 80 ribu per kilogram di Kota Kendari disiasati Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Kota Kendari melalui pendekatan komprehensif.
Tak hanya fokus pada tanaman pangan, Dinas Ketapang menggenjot kemandirian masyarakat melalui program Teras B2SA yang terintegrasi dengan sektor peternakan skala rumah tangga.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Kendari, Abdul Rauf, menegaskan bahwa peternakan mandiri—seperti budidaya ayam skala kecil—merupakan bagian tak terpisahkan dari konsep Rumah Pangan B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman) untuk memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi keluarga.
“Peternakan ayam skala rumah tangga itu sangat memungkinkan dan masuk dalam ruang lingkup B2SA. Dengan memanfaatkan lahan terbatas, seperti ukuran 2×3 meter atau 3×3 meter di sekitar rumah, warga sudah bisa memelihara beberapa ekor ayam. Ini langkah nyata menghemat pengeluaran keluarga di tengah fluktuasi harga kebutuhan pokok,” ujar Abdul Rauf.
Abdul Rauf menjelaskan, solusi menghadapi fluktuasi harga komoditas seperti cabai tidak cukup hanya mengandalkan bantuan darurat atau pasar murah yang sifatnya sementara.
Dinas Ketapang berkomitmen membangun ekosistem pangan mandiri berbasis pekarangan yang mencakup:
Melalui pendampingan dari penyuluh pertanian dan dinas terkait, masyarakat didorong untuk aktif memanfaatkan setiap jengkal lahan yang dimiliki. Langkah ini dinilai efektif untuk menekan tingkat inflasi daerah serta memperbaiki literasi keuangan rumah tangga.
“Cabai, sayuran, hingga kebutuhan protein dari ternak ayam dan ikan adalah kebutuhan mendasar. Jika semua ini bisa diproduksi sendiri dari teras rumah, daya tahan ekonomi keluarga akan jauh lebih kuat dan tidak mudah terguncang saat harga pasar meroket,” pungkas Abdul Rauf.
Editor : Agus Setiawan
Tidak ada komentar