Konsorsium Aktivis Revolusioner Sulawesi Tenggara (KARST)yang membawahi aliansi besar 14 lembaga progresif meliputi SAC, AMAN SULTRA, KORAN SULTRA, AMARA SULTRA, GEMPUR SULTRA, MAP HUKUM SULTRA, AWF, FORMALISH, JANGKAR SULTRA, SIMPUL SULTRA, AMPLK SULTRA, JGN, PM PALI SULTRA, dan AMPK SULTRA, resmi membuka aksi “Open Donasi Rp170 Ribu” (27/7/2026) untuk memberantas THM nakal di Kota Kendari. RADAR KENDARI – Rentetan insiden berdarah yang terus berulang di lingkup Tempat Hiburan Malam (THM) di Kota Kendari memicu reaksi keras dari gabungan aktivis.
Konsorsium Aktivis Revolusioner Sulawesi Tenggara (KARST)yang membawahi aliansi besar 14 lembaga progresif meliputi SAC, AMAN SULTRA, KORAN SULTRA, AMARA SULTRA, GEMPUR SULTRA, MAP HUKUM SULTRA, AWF, FORMALISH, JANGKAR SULTRA, SIMPUL SULTRA, AMPLK SULTRA, JGN, PM PALI SULTRA, dan AMPK SULTRA, resmi membuka aksi “Open Donasi Rp170 Ribu” (27/7/2026).
Aksi galang dana dengan nominal menggelitik ini merupakan bentuk satire sekaligus kritik tajam yang diarahkan langsung ke hidung manajemen salah satu THM di Kendari.
Industri hiburan malam tersebut dinilai telah gagal total dalam memberikan layanan, proteksi, maupun jaminan rasa aman bagi masyarakat umum yang datang berkunjung.
Kondisi tersebut diperparah oleh rusaknya sistem pengamanan internal yang dikelola oleh pihak manajemen THM E.
Alih-alih menjadi penengah yang humanis dan pelindung konflik, pihak pengamanan internal atau security THM E justru berulang kali terseret dan menjadi aktor utama dalam berbagai tindakan dugaan kekerasan brutal.
Dalam beberapa catatan rekam jejak kelam di mana THM E dinilai berubah menjadi arena dugaan pengeroyokan oleh oknum security itu sendiri.
Kasus tindak kekerasan teranyar di THM E memperlihatkan benang merah yang sam, yakni lemahnya pengawasan manajemen serta mental premanisme yang dipelihara di balik seragam resmi petugas keamanan internal mereka.
Keberadaan barisan pengamanan di sana dinilai bukan lagi untuk menertibkan situasi, melainkan melegitimasi aksi main hakim sendiri.
Penanggung Jawab KARST, Ikhram, menegaskan bahwa nominal Rp170 ribu yang digalang oleh 14 lembaga ini merupakan tamparan psikologis yang keras bagi pengusaha THM E.
Pengumpulan dana ini menjadi simbol komedi getir bahwa pemilik modal seolah-olah kekurangan biaya untuk membangun sistem pengamanan yang layak dan profesional.
“Donasi Rp170 ribu dari 14 lembaga di bawah naungan KARST ini adalah satire murni. Kami menggalang koin demi koin ini sebagai modal tambahan pengamanan, karena pemilik THM E terkesan miskin modal untuk menyekolahkan dan melatih security-nya agar paham cara mengamankan situasi tanpa harus ikut memukuli orang,” cetus Ikhram dalam pernyataan tertulisnya.
Lebih lanjut, Ikhram menyindir keras sikap abai pemilik modal THM E yang dinilai sengaja menutup mata terhadap rentetan tindak kekerasan di area bisnis mereka.
Ia menilai ada ketimpangan moral yang nyata ketika pengusaha menikmati perputaran uang yang besar, namun mengabaikan standarisasi SDM pengamanan yang bersertifikasi resmi.
“Security THM E digaji bukan untuk menjadi preman berseragam yang melegitimasi tindakan pengeroyokan. Sangat memalukan jika pengusaha kaya raya terkesan membisu saat kekerasan terjadi di depan mata, padahal mereka yang paling bertanggung jawab atas keamanan di dalam lingkup usahanya. Jangan hanya mau memanen keuntungan dari masyarakat, tapi giliran warga berdarah, manajemen berlagak tidak tahu apa-apa,” tegasnya menohok.
Menyikapi sengkarut keamanan yang kian tak terkendali akibat kelalaian berulang dari pihak manajemen THM E, Kelompok besar Aktivis tersebut menyatakan tidak ada lagi ruang untuk negosiasi kosmetik.
Koalisi secara resmi menuntut dengan sangat tegas kepada Pemerintah Kota Kendari bersama aparat Kepolisian untuk segera bertindak nyata menghentikan total dan menutup permanen operasional THM E di Kota Kendari karena terbukti menjadi episentrum tindak kekerasan dan premanisme.
Langkah penutupan total ini dinilai menjadi satu-satunya jalan keluar yang logis demi mengembalikan marwah ketertiban kota.
Koalisi menegaskan bahwa pembiaran terhadap bisnis malam seperti E yang gagal memberikan garansi keselamatan nyawa manusia hanya akan merusak citra Kota Kendari.
“Uang hasil donasi ini nantinya akan kami serahkan secara simbolis kepada pihak terkait. Kami ingin menunjukkan, dengan tambahan modal Rp170 ribu dari koalisi rakyat ini, apakah pengusaha THM E bisa sadar diri dan tahu malu, ataukah memang E sudah layak digulung dan ditutup permanen karena hanya menjadi ladang kekerasan yang mematikan rasa kemanusiaan,” pungkas Ikhram. (Admin)
Tidak ada komentar