Salah satu balita yang mendapatkan pendampingan dari Pemkot Kendari. Pendampingan diberikan melalui Program Orang Tua Asuh untuk mencegah stunting. RADAR KENDARI — Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari menyoroti perbedaan signifikan antara data prevalensi stunting yang dirilis Pemerintah Pusat dengan data hasil pengukuran internal Pemkot Kendari.
Perbedaan metodologi penanganan dan pendataan dinilai menjadi pemicu timbulnya jurang perbedaan angka yang cukup jauh tersebut.
Berdasarkan data Paparan Prevalensi Stunting Kota Kendari, Pemerintah Pusat yang menggunakan metode Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) mencatat angka prevalensi stunting Kota Kendari berada di level 24,40 persen pada tahun 2024 (dengan catatan SSGI tidak dilaksanakan pada 2025).
Sebaliknya, pencatatan langsung oleh Pemkot Kendari melalui sistem e-PPGBM (Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat) mencatatkan angka yang jauh lebih rendah, yakni 2,06 persen pada 2024 dan turun menjadi 1,82 persen pada tahun 2025.
Menanggapi ketidaksesuaian data tersebut, Wali Kota Kendari, dr. Hj. Siska Karina Imran, menegaskan pentingnya dilakukan sinkronisasi data antara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dengan Dinas Kesehatan serta Puskesmas di daerah.
“Yang lebih tahu adalah kita. Kita yang bermukim di sini, dan kita yang melaksanakan program ini secara langsung di lapangan. Karena itu, memang dibutuhkan sinkronisasi data antara pusat dan daerah,” tegas Siska saat ditemui usai menghadiri Rapat Koordinasi Bidang Kesehatan di Kendari, Selasa (14/07/2026).
Siska menjelaskan bahwa intervensi penanganan stunting di Kota Kendari terus berjalan secara riil melalui Satuan Tugas (Satgas) Stunting.
Berdasarkan pendataan berbasis by name by address di tingkat Puskesmas dan Posyandu, jumlah anak terindikasi stunting mengalami penurunan nyata.
“Dari tahun sebelumnya saat awal menjabat, tercatat ada sekitar 500 anak penderita stunting. Setelah kita lakukan intervensi dan berbagai strategi penanganan, angkanya turun menjadi 460 anak pada 2025,” jelasnya.
Untuk memastikan tren penurunan stunting berlanjut, Pemkot Kendari akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap jajaran Satgas Stunting.
Pemkot juga memastikan program penanganan terpadu seperti Program Orang Tua Asuh tetap berjalan aktif di lapangan.
Selain membahas penanganan stunting, Rapat Koordinasi Bidang Kesehatan tersebut juga dirangkaikan dengan launching Kelurahan Siaga TBC di 62 titik/Lokus se-Kota Kendari.
Program ini difungsikan sebagai pusat identifikasi dan pelacakan (tracking) faktor risiko serta lingkungan terindikasi TBC.
Pemkot Kendari juga terus memacu cakupan Cek Kesehatan Gratis (CKG) dengan target mencapai 90 persen melalui paket pemeriksaan spesial yang digulirkan bertahap, guna memastikan seluruh indikator kesehatan masyarakat Kota Kendari dapat terpantau secara optimal.
Editor : Agus Setiawan
Tidak ada komentar