Siasati Harga Cabai yang Melonjak, Dinas Ketapang Kendari Ajak Warga Sulap Teras Jadi Pangan Mandiri B2SA

waktu baca 2 menit
Selasa, 22 Sep 2026 17:35 98 redaksi

RADAR KENDARI — Kenaikan harga cabai yang meroket dari Rp 40 ribu menjadi Rp 80 ribu per kilogram di Kota Kendari mendapat perhatian serius dari pemerintah setempat.

Menanggapi lonjakan harga komoditas yang rutin memicu inflasi tersebut, Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Kota Kendari menyiapkan langkah strategis melalui pemanfaatan pekarangan dan teras rumah warga.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Kendari, Abdul Rauf, mengungkapkan bahwa pihaknya terus mendorong masyarakat untuk mengoptimalkan program Rumah Pangan B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman) serta pemanfaatan Teras B2SA.

Langkah ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan keluarga secara mandiri sehingga masyarakat tidak bergantung penuh pada dinamika harga pasar.

“Setiap tahun kenaikan harga komoditas pangan seperti cabai ini selalu memengaruhi inflasi. Melalui optimalisasi Teras B2SA, kami menginginkan setiap keluarga memiliki tanaman di sekitar rumahnya. Kalau setiap rumah tangga menanam cabai, ketahanan pangan keluarga akan lebih kuat,” ujar Abdul Rauf.

Bantu Bibit Siap Panen dan Dorong Kemandirian

Abdul Rauf menjelaskan bahwa lonjakan harga cabai dipicu oleh menurunnya stok pasokan akibat faktor cuaca.

Namun, dengan perawatan dan ketersediaan air yang cukup, penanaman skala rumah tangga terbukti tetap bisa tumbuh subur.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Dinas Ketapang Kota Kendari telah membagikan sekitar 800 tanaman cabai siap panen kepada masyarakat, khususnya sasaran Kategori Desil 1 hingga Desil 5.

Pihaknya tidak hanya memberikan bantuan sementara, melainkan memberikan edukasi dan pendampingan melibatkan penyuluh pertanian agar timbul kesadaran mandiri di tingkat rumah tangga.

Cakup Peternakan hingga Hidroponik

Selain komoditas cabai dan sayuran, program optimalisasi pekarangan rumah ini juga mencakup bidang pangan lainnya:

  • Peternakan Skala Rumah Tangga: Pemanfaatan lahan terbatas (seperti ukuran 2×3 meter atau 3×3 meter) untuk pemeliharaan ayam.
  • Perikanan Peperangan: Budidaya ikan kapasitas 50 ekor di pekarangan/teras.
  • Hidroponik Sayuran: Budidaya tanaman seperti kangkung (bisa dipanen dalam 21 hari) dan sawi.

“Program ini bukan sekadar bantuan atau gerakan pangan murah yang sifatnya sementara, tetapi membangun literasi keuangan dan kemandirian pangan keluarga. Jika kebutuhan dasar seperti cabai dan sayuran bisa dipenuhi dari pekarangan sendiri, pengeluaran rumah tangga akan jauh lebih tertekan dan efisien,” pungkas Abdul Rauf.

Editor : Agus Setiawan

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA